Pers Asing “Memburu” Presiden Sampai ke Semarang

SEMARANG, KOMPAS–Detik-detik menjelang pengumuman pemenang Nobel Perdamaian 2006, di mana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono disebut-sebut sebagai salah seorang kandidat yang akan memperoleh penghargaan bergengsi tersebut, sejumlah wartawan dari media asing yang berada di Jakarta, ikut-ikutan “berburu” Presiden Yudhoyono sampai jauh ke Semarang.

Pemandangan ini memang tidak seperti biasanya. Biasanya, kalau kunjungan kerja Presiden ke suatu daerah, yang biasanya diajak oleh Biro Pers dan Media Massa Sekretariat Negara adalah wartawan lokal dan bukan wartawan dari media asing.

Kecuali jika Presiden akan melakukan pertemuan dengan pejabat tinggi asing di suatu daerah, seperti ketika Presiden Yudhoyono mau menerima Perdana Menteri (PM) Australia John Howard di Batam atau mau mengadakan pertemuan dengan delegasi Malaysia yang dipimpin oleh PM Abdullah Ahmad Badawi di Padang.

Kali ini, mengingat sekitar pukul 15.00 atau 16.00 wib sudah bisa diketahui apakah Presiden Yudhoyono akan atau tidak mendapatkan penghargaan tersebut, maka wartawan asing pun ikut memburu Presiden Yudhoyono, meskipun Presiden Yudhoyono hanya mengadakan Safari Ramadhan atau acara berbuka puasa dengan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Jumat sore ini, SafariRamadhan Presiden dilakukan di Demak, Jateng.

Para wartawan asing yang berasal dari Indonesia itu, meskipun tak diundang oleh Biro Pers dan Media Massa Setneg, berinisiatif berangkat sendiri-sendiri dan menginap di hotel yang sama dengan rombongan ataupun di hotel lain.

Para wartawan yang ikut “berburu” sikap dan reaksi dan pendapat Presiden setelah pengumuman pemenang Nobel itu di antaranya adalah Muklis dari Kantor Berita Reuters, IIn dari TV NHK Jepang beserta kameramen Eddy, Agus dari Koran Ekonomi dan Keuangan Nikkei Shimbun, Endang dari Asahi Shimbun Jepang.

Adapun wartawan asing yang sudah menunggu di Demak seperti Zaki dari AP dan media lainnya. Biro Pers dan Media Massa sendiri mengajak dua wartawan asing, yaitu Mark Forbes dari Koran The Age dan Stephani Vaessen dari NaS TV.

IIn mengaku ditugaskan kantornya untuk berangkat sendiri meskipun tidak diundang oleh Biro Pers dan Media Massa untuk “mengejar” Presiden. “Ini momen penting, tentu saja harus diliput. Dapat atau tidak mendapatkan Nobel, pers tentu harus melaporkannya,” ujar Iin, yang menginap di Hotel Santika. Iin ditemani Endang dari Asahi Shimbun yang menginap di hotel lain.

Sedangkan Muklis mengatakan bahwa karena Nobel merupakan penghargaan tingkat dunia, maka kantornya menugaskan dirinya untuk standby mengikuti dan meliput Presiden Yudhoyono sekalipun ke Semarang.

“Saya bukan meliput peresmian PLTU Tanjung Jati B atau Safari Ramadhan, saya standby untuk liputan Nobel yang dinominasikan ke Presiden Yudhoyono. Karena Nobel itu tingkat dunia, maka dia harus mendapat porsi di pemberitaan. Sebab, itu saya ditugaskan khusus untuk melakukan peliputan ke sini,” ujar Muklis, yang sudah belasan tahun meliput di lingkungan Presiden.

Muklis dan rekannya Agus berangkat bersama dari Jakarta, Jumat pagi dengan pesawat dan menginap di hotel Grand Candi, yang juga menjadi tempat menginap Presiden.

Laporan Wartawan Kompas Suhartono

Kompas, Jumat, 13 Oktober 2006

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: