SBY Harapkan Pers Terapkan Self Censorship

Jakarta – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berharap kalangan media massa dapat menggunakan era kebebasan pers secara bijak. Antara lain, menerapkan self censorship untuk menentukan berita apa yang tepat dan tidak diwartakan ke masyarakat.

“Saya percaya wartawan senior dan pemimpin media massa, pada saatnya ada sesuatu yang amat mengancam keutuhan negara dan situasi kita segala macam, pastilah ada satu pintu bagaimana mewartakan ke masyarakat secara tepat dan benar,” kata SBY.

Hal tersebut disampaikan Kepala Negara dalam acara buka puasa bersama dengan insan pers, di Istana Negara, Jakarta, Kamis (28/9/2006). Acara tersebut dihadiri seratusan pimpinan media massa nasional. Menteri yang hadir antara lain Menhub Hatta Rajasa, Seskab Sudi Silalahi dan Menkominfo Sofyan Djalil.

Presiden menegaskan, kebebasan pers merupakan bagian dari tumbuhnya demokrasi yang merupakan pilihan bangsa. Maka tidak tepat bagi pemerintah meneruskan kebijakan mengontrol, mengekang dan kebebasan pers.

Era itu sudah lewat. Baik pemerintah, dan seluruh lapisan masyarakat bisa mengambil pelajaran dari pengalaman masa lalu. Insan pers hendaknya menggunakan kebebasannya secara tepat agar mendatangkan kebaikan bagi masyarakat, yakni juga mempertimbangkan unsur toleransi dan aturan hukum.

“Saya pilih kehidupan seperti itu sebagai suatu gentlement agreement. Daripada kita kembali ke waktu lalu, pemerintah kontrol. We can not control the mind of peoples,” ujar SBY.

Sebelumnya Presiden memaparkan, sejarah self censorship yang lahir di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1960-an sebenarnya tidak ada kaitannya sama sekali dengan pemerintah dan kekuasaan. Praktek tersebut justru dilahirkan dan dikembangkan oleh kalangan pers sendiri.

Ketika itu di AS tengah berkembang civil right movement. Lalu terjadi rusuh massal di berbagai tempat. Terjadi dilema di internal media massa saat akan memberitakan kasus itu.

“Kasus ini bagusnya kita angkat semua atau tidak. Kalau diangkat semua barangkali ada crusial crisis yang luar biasa. Atau kita angkat dengan angle berbeda dan mungkin tidak hari ini,” papar SBY menggambarkan dilema pers AS kala itu.

Ternyata pilihan menerapkan self censorship merupakan putusan tepat. Rakyat AS terhindar dari pertumpahan darah dan krisis yang lebih luas. Sementara civil right movement, kebebasan pers dan demokratisasi terus berkembang sampai sekarang.(lh/asy)

Luhur Hertanto – detikcom

Sumber: Detik.com, 28 September 2006

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: