Pers dan Tantangan Mutakhir yang Dihadapinya

Updated: Rabu, 08 Februari 2006, 19:31 WIB FOKUS

Jakarta, KCM

Kamis 9 Februari 2006, kembali kita memperingati Hari Pers Nasional. Banyak lah soal yang bisa kita jadikan bahan renungan. Tentu saja berada di puncak renungan adalah topik yang berkaitan dengan kebebasan pers. Tidak saja pers Indonesia, pers dunia pun hari-hari ini sedang dihadapkan pada gugatan tentang bagaimana kebebasan pers diterapkan oleh pengelola media massa. Hal ini terkait dengan merebaknya protes dan demo menyusul pemuatan kartun Nabi Muhammad SAW di koran Denmark, Jyllands-Posten.

Kita sepakat, bahwa pengasuh koran Denmark tersebut telah salah besar dalam menerapkan kebebasan pers, karena paham yang dikaitkan dengan praksis demokrasi itu telah digunakan tanpa mengindahkan perasaan umat Islam yang sangat menghormati dan mencintai Rasulullah. Tampak, selain bernuansa kebodohan, praksis kebebasan pers oleh media Denmark tadi juga bernuansa arogansi.

Blunder dan kebodohan yang lalu menyulut kemarahan umat Muslim di berbagai negara ini jelas harus menjadi pelajaran bagi setiap pengelola penerbitan pers. Pelajaran ini bertambah relevansinya bagi negara seperti Indonesia yang pluralistik. Kesadaran untuk saling menghargai harus lah terus tertanam pada setiap insan pers Indonesia.

Bagi pers Indonesia sendiri, tantangan lain yang hari-hari ini harus dijawab adalah bagaimana menjawab perkembangan baru yang dihadirkan oleh kemajuan teknologi dan globalisasi.

Teknologi memberi kemungkinan baru dalam cara masyarakat mendapatkan berita. Bersama teknologi baru hadir pula gaya hidup baru, yang kemudian juga menghadirkan kemungkinan-kemungkinan baru. Dalam kaitan ini pengelola media konvensional di berbagai penjuru dunia sekarang ini tengah melakukan berbagai langkah konsolidasi.

Persaingan dalam industri media semakin tajam, tidak saja dalam memperebutkan kue iklan, tetapi juga dalam memperebutkan audiens. Dalam konteks ini, media cetak bisa dikatakan belum pernah dalam posisi sedefensif seperti sekarang ini, yaitu ketika tiras semakin tertekan oleh meluasnya pencarian berita melalui media lain yang derapnya lebih cepat, mulai dari radio, televisi, internet, dan terakhir juga seluler.

Sementara efek globalisasi muncul dalam bentuk kapital asing yang memasuki industri media lokal, seperti yang beberapa waktu terakhir kita saksikan dalam industri televisi.

Di satu pihak, hal itu memperlihatkan, bahwa industri media di Indonesia masih penuh dengan prospek cerah, sehingga menarik minat investor asing. Hal ini juga berpengaruh positif bagi upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal yang bergerak di industri ini. Pada sisi lain, bila tak ditanggapi dengan serius, tidak lama lagi wajah asing dalam industri media lokal akan semakin kentara.

Dalam kiprahnya, pers Indonesia tidak jarang masih harus terus mencari format yang ideal dalam interaksinya dengan pemerintah dan juga dengan kelompok-kelompok masyarakat. Pada dasarnya pers memang berfungsi mengungkapkan realita yang ada, betapa pun pahit rasanya, seperti halnya tentang terjadinya kelaparan dan kemiskinan. Namun sempat terjadi pula, bahwa laporan semacam itu diterima dengan salah paham.

Tampaknya, sebagaimana menyangkut praksis kebebasan pers, format interaksi pers dan audiensnya, merupakan hal yang tak bisa dilihat sebagai sesuatu yang sudah jadi, atau diperlakukan begitu saja (taken for granted). Praksis pers dalam banyak hal tetap satu hal yang harus selalu dihayati dan dicarikan formatnya yang pas untuk sikon dan masa tertentu.

Para tokoh dan insan pers yang memperingati Hari Pers Nasional 2006 di Bandung kiranya bisa menangkap semangat dan persoalan yang hari-hari ini hidup di tengah-tengah kita. (*)

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: