Dengan Lisensi Selera Global

SENYUM selalu mengembang di wajah Haryo Pambudi belakangan ini. Sebagai pendatang baru, pria 44 tahun ini berhasil menerbitkan majalah Rolling Stone versi Indonesia. Tak sampai satu tahun, mantan Direktur Keuangan PT Bakrie Media ini berhasil meyakinkan pemilik majalah musik tersohor di dunia itu, Jann S. Wenner, memberikan lisensi Rolling Stone.

“Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan,” kata Haryo, Presiden JHP Media, pekan lalu. Dia mulai berkorespondensi dengan penerbit majalah yang mulai beredar pada 9 November 1967 itu sebelum Oktober tahun lalu. Suratnya sempat salah alamat. Tapi lobi kian intens sejak Oktober. Ketika itu dia mengajukan proposal yang mengupas masalah isi dan bisnis versi Indonesia. Lewat Internet, dia dites berbagai hal, antara lain membuat edisi contoh atau dummy.

Setelah dirasa cukup, Januari lalu Haryo dianggap layak melakukan presentasi langsung di depan pimpinan dan pemilik Jann S. Wenner di kantor Rolling Stone di New York, Amerika Serikat. Sejak pagi hingga sore, dia dibombardir pertanyaan tentang konsep produk dan bisnis. “Dengan kata bulat mereka mengatakan ingin Indonesia menjadi yang pertama di Asia,” ujar Haryo, yang menggemari majalah dengan tiras 1,3 juta di Amerika Serikat itu.

Rencananya, versi Indonesia terbit pada 2 Mei. Rolling Stone kesembilan di dunia ini akan menyambangi penggemarnya setiap Senin pada awal bulan, dengan harga eceran Rp 30 ribu. Tirasnya masih dirahasiakan penerbit. Terpilihnya JHP Media sebagai pemegang lisensi Rolling Stone pertama di Asia memang mengejutkan. Pada saat yang sama, perusahaan yang baru dibentuk pada Februari lalu ini harus bersaing dengan beberapa peminat dari Cina, Jepang, dan India.

Beberapa perusahaan Indonesia ternyata pernah melamar, seperti PT Amerindo Media Investama pada 2000, tapi gagal. Promotor musik Adri Subono, dengan bendera Java Musikindo, termasuk yang gagal mendapatkan lisensi Rolling Stone, tiga tahun lalu. “Prosesnya terlalu berbelit-belit dan sangat mahal,” katanya.

Proses berbelit-belit juga dialami Grup Kompas Gramedia ketika membeli lisensi majalah National Geographic. Dirintis sejak 2002, tawaran Kompas Gramedia baru dilayani penerbit majalah yang dibaca 40 juta orang ini setahun kemudian. Setelah beberapa kali pertemuan di markas besar majalah yang terbit sejak 1888 di Washington DC itu, pada Juni tahun lalu, Kompas berhasil memperoleh lisensi majalah yang telah dicetak dalam lebih dari 25 bahasa itu.

Meski mendapat lisensi, perlu masa setahun sebagai persiapan hingga terbit perdana versi Indonesia, pada 28 Maret lalu. “Kesiapan redaksi, produksi, dan bisnis diklarifikasi. Kami juga harus memiliki mesin cetak enam warna,” kata Direktur Bisnis Gramedia Majalah, Adrian Herlambang. Sejak edisi perdana itu, National Geographic Indonesia mendapat respons bagus.

Keberhasilan National Geographic Indonesia makin menambah panjang sukses majalah lisensi asing di jagat media Indonesia. Majalah lisensi asing pertama di Indonesia adalah majalah anak-anak Bobo, yang terbit pada 1973 dan mencapai tiras 250 ribu eksemplar. Tapi majalah model begini kian ramai sejak Grup Mugi Rekso Abadi (MRA) memelopori penerbitan majalah Cosmopolitan versi Indonesia pada Agustus 1997. Kini majalah lisensi mencapai bilangan 30, dengan tiras 30 ribu hingga 140 ribu eksemplar tiap edisi.

Pengamat media Ade Armando menyatakan, keberhasilan media-media asing di Indonesia akibat terjadinya penyeragaman selera budaya global. Ini juga dipercepat lewat media televisi yang menyiarkan, bahkan secara langsung, apa yang terjadi di belahan dunia lain. Penerbitan model lisensi ini juga makin berkembang lantaran biaya produksinya tidak semahal menerbitkan majalah baru.

Menurut Ade, “Keberhasilan majalah lisensi ini tentu mengancam majalah lokal.” Celakanya, para pengusaha media besar lokal ikut-ikutan terjun menerbitkan media berlisensi asing. Ini keniscayaan pasar yang tak bisa dihindari. Kini media massa menjadi salah satu komoditas dunia yang diperdagangkan tanpa hambatan lagi.

M. Syakur Usman

Majalah Tempo, Edisi. 07/XXXIV/11 – 17 April 2005

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: