Setahun Penyanderaan Ferry

Jakarta – Nyaris setahun Ferry Santoro, kameraman RCTI, disandera. Bagaimana perjalanan penyanderaannya? Inilah kisah singkatnya:

Ersa & Ferry Hilang
Dua wartawan RCTI, reporter Sory Ersa Siregar dan kameramen Ferry Santoro, dilaporkan hilang di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Berikut ini kronologinya yang dituturkan oleh kolega Ersa dari RCTI, Edwin Nasir.

Minggu (29/6/2003) pukul 09.00 WIB Sory Ersa Siregar (reporter RCTI) bersama Ferry Santoro (kameraman) dengan ditemani Rahmatsyah alias Punta sebagai pengemudi berangkat dari rumah kontrakan RCTI (posko RCTI di Lhokseumawe) di simpang Selat Malaka, Cunda,Aceh Utara menuju Kuala Langsa, Aceh Timur.

Sore harinya pukul 16.00 WIB, Ersa mengontak reporter RCTI yang berada di Lhokseumawe, Edwin Nazir, dan memberitahukan tidak bisa pulang cepat ke Lhokseumawe untuk mengantar berita dari Posko Marinir Kuala Langsa, Aceh Timur, mengenai dua anggota GAM yang ditembak.

“Gambar menggunakan grafik saja sehingga kita tidak perlu ngebut,” ujar Ersa seperti ditirukan Edwin.

Dari buku tamu Posko Marinir Kuala Langsa, Aceh Timur, tercatat Ersa dan tim RCTI itu meninggalkan posko pada pukul 15.30 WIB. Sebelum meninggalkan posko tersebut, Ersa sempat bertemu dengan reporter TVRI, Effendi Soen. Dan Ersa pun pamit dengan alasan mau kejar Seputar Indonesia yang akan ditayangkan pada pukul 18.30 WIB.

Dalam perjalanan pulang menuju Lhokseumawe, Ersa sempat mampir di Kamp pengungsi Birem Bayeun, Peureulak. Di pos pengungsian ini tim RCTI tercatat mampir.

Sementara dari keketerangan beberapa saksi mata diperkirakan bahwa kedua wartawan RCTI tersebut hilang di daerah Peureulak menuju Lhokseumawe. Misalnya, di simpang alue Jiko, Peureulak, ada tukang udang yang melihat mobil kijang kapsul RCTI melintas menuju Lhokseumawe.

Kemudian ada tukang kepiting di Langsa Lama, Aceh Timur, yang juga melihat mobil kijang kapsul biru RCTI arah lhokseumawe jam 15.00 sore. Dan di rumah makan Renggali, alue dua Langsa, mobil kijang kapsul RCTI tercatat mampir dan makan siang. Di rumah makan ini mampir agak lama.

Sementara posko satgas mobil 1 yang berada di Peureula mengatakan belum ada info mengenai melintasnya mobil RCTI.

Namun, dari teman RCTI yang ada di Lhokseumawe diperoleh informasi bahwa Ersa tidak mengontak hingga pukul 21.00 WIB. Baru setelah itu, Ersa ditelepon dan tidak nyambung termasuk ke nomor telpon supir sampai sekarang tidak ada kabarnya.

Ersa seharusnya dijadwalkan pulang ke Jakarta pada Senin (30/6/2003) kemarin bersama Edwin Nazir. Ersa sempat mengaku ingin cuti pasalnya putri pertamanya yang saat ini sedang mengenyam kuliah di Komunikasi UNS minta ditemani. Ersa datang ke Aceh mulai 13 Juni lalu.

Selain Ersa dan Ferry serta Rahmatsyah, turut disandera pula Safrida, 36, isteri Letkol (Pnb) Azhari, dan adiknya, Soraya, 31, yang merupakan isteri Lettu (Pnb) Agung. Keduanya turut menumpang kendaraan liputan RCTI yang ditumpangi Ersa-Ferry.

Rahmatsyah Dibebaskan
Setelah hampir enam bulan menjadi sandera Gerakan Aceh Merdeka, sopir mobil kru RCTI, Rahmatsyah (20), akhirnya diselamatkan pasukan Marinir TNI dalam kontak tembak di Desa Pante Bayam Simpang Ulim, Aceh Timur, Rabu (17/12/2003).

Ersa Tewas
Sory Ersa Siregar yang akrab dipanggil “Bang Ersa” tewas di tengah kontak tembak antara Batalyon 6 Marinir dan kelompok GAM berkekuatan delapan orang di Dusun Kuala Manihan, Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur, Senin (29/12/2003).

Safrida-Soraya Dibebaskan
Safrida dan Soraya berhasil dibebaskan oleh pasukan Yonif 700/Raider di kawasan Tungkai Gajah, Kecamatan Darul Aman, Aceh Timur, pada 29 Januari 2004.

GAM Janji Lepaskan Ferry
Pada awal Mei 2004, Gerakan Aceh Merdeka berjanji akan membebaskan juru kamera RCTI Ferry Santoro pada 13 Mei 2004. Pembebasan Ferry ini akan dilakukan dengan perantara Palang Merah Indonesia, International Federation of Journalists (IFJ), dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Rencananya, Ferry akan dibebaskan di sekitar perkebunan PT Bumi Flora, Idi Rayeuk, Aceh Timur. Tapi janji membebaskan 13 Mei ini molor dan GAM janji membebaskan Ferry dan sandera lainnya pada Sabtu (15/5/2004).

22 Sandera Dibebaskan
Sabtu (15/5/2004), GAM membebaskan 22 sandera sipil, tidak ada Ferry Santoro di dalamnya. GAM janji membebaskannya Minggu (16/5/2004).

Ferry Bebas
Kamerawan RCTI Ferry Santoro akhirnya dibebaskan oleh GAM pada sekitar pukul 15.00 WIB, Minggu (16/5/2004) di titik yang disepakati di Aceh Timur, bersama 3 sandera lainnya.(nrl/)

Nurul Hidayati – detikcom

Sumber: http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2004/bulan/05/tgl/16/time/170700/idnews/157144/idkanal/10

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: