GAM akan Bebaskan Ferry Santoro 13 Mei, TNI Tak Tahu

Banda Aceh – Berdasarkan kesepakatan dengan TNI melalui ICRC (Palang Merah Internasional), GAM akan membebaskan kamerawan RCTI Feery Santoro pada 13 Mei 2004. Namun TNI mengaku tidak tahu.

“Kita sudah ada kesepakatan dengan TNI lewat ICRC,” ungkap Komandan Operasi GAM wilayah Peureulak Ishak Daud yang dikonfirmasi detikcom melalui telepon satelitnya, Selasa (4/5/2004).

Menurut dia, Selain Ferry, GAM juga akan membebaskan seratusan sandera sipil lainnya. Sekadar tahu, Ferry sendiri sudah hampir setahun menjadi sandera GAM.

“Lokasi pembebasan sekitar seratusan sandera itu akan dilakukan di kawasan perkebunan PT Bumi Flora di kawasan Idi Rayeuk, Aceh Timur. Persoalan teknis sudah kita atur dan sepakati. Jadi nanti, dalam dua kali 24 jam sebelum tanggal 13 Mei, TNI tidak akan melakukan pergerakan. Mereka tetap berada di pos saja,” tutur Ishak.

Jika kesepakatan itu dilanggar TNI, lanjut dia, maka proses pembebasan tersebut dengan sendirinya batal. Menurut dia, kesepakatan itu sudah diatur oleh kuasa hukum GAM Alamsyah Hamdani dengan ICRC bersama TNI.

“Kami mohon semua berjalan sesuai rencana, agar para sandera itu dapat kami bebaskan. Tapi kami juga minta maaf, karena tidak semuanya bisa kami bebaskan, sebab situasi tidak memungkinkan,” lanjut Ishak.

Menurut dia, bersama Fery ada sekitar 200 sandera sipil yang kini masih berada di tangan mereka. Ketika ditanya tentang kondisi terakhir Ferry, Ishak mengaku, Ferry dalam keadaan sehat meski beberapa waktu lalu dikabarkan sakit.

“Saya sudah tidak bertemu dengan dia selama satu minggu ini. Saya juga minta kawan-kawan wartawan datang, baik yang dari media nasional maupun internasional. Saya tunggu,” demikian Ishak Daud.

TNI Tidak Tahu

Hal yang bertolak belakang disampaikan Juru Bicara Koops TNI Letkol CAJ Asep Sapari. Dia mengaku tidak tahu menahu soal rencana pembebasan tersebut.

“Ah gombal itu. Ishak Daud kok dipercaya,” tukasnya saat dikonfirmasi detikcom melalui telepon.

Ferry ditahan GAM sejak akhir Juni 2003 silam bersama reporter RCTI Ersa Siregar. Ersa kemudian meninggal dalam peristiwa kontak senjata GAM dengan TNI pada Desember 2003.

Bersama dengan Ferry dan Ersa, turut disandera juga sopir mereka Rahmatsyah, kemudian dua wanita bernama Farida dan Soraya. Kelimanya saat ditangkap dan disandera GAM saat bersama-sama berada dalam perjalanan dengan sebuah mobil.

Rahmatsyah, Farida dan Soraya kemudian berhasil bebas dari cengkraman GAM. Saat itu pasukan GAM yang mengawal mereka terlibat kontak senjata dengan pasukan TNI yang sedang berpatroli. (sss/)

Nur Raihan – detikcom

Sumber: Detik.com, Selasa (4/5/2004)

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: